Senin, 06 Februari 2017


"SANG FAJAR DARI TIMUR"
Ketika rasa benci dan dengki jadi tonggak abadi kebangkitan suatu negeri, maka kebiadaban dan angkara murka adalah realita yg tidak pernah bisa terbantahkan akan terjadi didepan mata.
Kebenaran akan jadi momok menakutkan bagi sang penguasa gila harta dan pemuja dunia. Diskriminalisasi akan menjadi ancaman pasti bagi si marjinal yang tak patuh pada iblis berkedok penguasa suci.
Kebenaran dan kesucian akan menjadi barang murni yang tak laku dipasaran.
Kemerosotan moral sang penguasa mulai terlihat seperti titanus dikaki yang dibasuh dengan air aki, bau busuknya menyengat dan terlihat menjijikan hingga tak ada orang yg berani mendekati!
Penguasa edan yang tak pernah perduli lagi dengan rakyat yang kelaparan, penguasa sinting yang sudah lupa akan janji yg dulu pernah di ucapkan, rezim bobrok yang mulai tak sadar dan menelantarkan si marjinal yang tak paham keadaan!
Sampai akhirnya kegaduhan pun terjadi diistana para penguasa, ketika tokoh yang dianggap suci oleh umat mulai berteriak "MENEGAKAN YANG HAK DAN MENUMPAS KEBATILAN" dan mulai menghunuskan pedang untuk membabat ketidak adilan dan kebiadaban sang penguasa gila jabatan!
Sontak kegaduhan diistana tambah menyala ketika sang tikus pembawa bencana malah menjadi tokoh gila karena berani menista agama dan kaum alim yg disucikan sebagian warga. sontak terdengar penguasa yang melindungi si tikus bajingan mulai konsolidasi dengan para ulama dan budayawan negara agar tak terjadi kisruh antar umat beragama dan para warga yang tak mengerti apa-apa.
Isu-isu mulai diumbar di media-media dan warta kota untuk mengalihkan perbincangan hangat para warga tentang si tikus durjana yang menistakan agama, dan juga mulai mendoktrin para warga dengan segala berita bohong yang mereka rekayasa.
Mereka lupa "tokoh suci" punya kehebatan yg tak bisa mereka tandingi, hanya dengan seruan jihad dan kumandang takbir tokoh suci mampu menarik puluhan bahkan ratusan juta umat yang memiliki cinta pada apa yang mereka percayai dan negeri ini Untuk bersatu mengganyang kebiadaban dan ketidak adilan sang penguasa negeri.
Mereka pikir "tokoh suci" akan menyingkir dengan sogokan 100 miliar dan ratusan hektare tanah yang mereka janjikan, namun alangkah terkejutnya mereka karena tawaran menggiurkan tak pernah dilirik namun malah diacuhkan.
Penguasa tak pernah menyangka tawaran 100 miliar dan hektaran tanah akan ditolak mentah-mentah, namun kenyataan memang begitu adanya.
"Tokoh Suci" tak pernah bungkam ataupun berhenti menyuarakan KEBENARAN DAN KEADILAN yang sepatutnya rakyat dapatkan.
Sampai akhirnya otak sang penguasa mulai keranjingan dan mulai dirasuki ocehan-ocehan setan yang semakin menjerumuskan, beberapa kali upaya pembunuhan serta fitnahan-fitnahan mulai digembor-gemborkan demi untuk menjegal perjuangan dan menciutkan nyali "sang tokoh suci",
Namun sekali lagi "hal yang nihil" mereka dapati.
Keteguhan pendirian atas apa yang "HAK DAN BATHIL" sudah mendarah daging dalam diri "Tokoh Suci", selain karena luasnya ilmu yg beliau miliki kebaikan itu beliau warisi dari KAKEKnya dan idola beliau (ke 4 sahabat kakeknya).
Semoga "Tokoh Suci" diberi Keistiqomahan (HAL BAIK) dalam diri oleh yang Maha Suci dan semoga beliau diberi kesehatan serta kebahagiaan. Dan semoga beliau diberi kemenangan atas musuh-musuh nya dimedan pertempuran.
Amiin Allahum'ma amiin
#cintaahlulbait
#tetapberjuang
#seruantakbir
#seruanjihad
#tetapistiqomah
Sukabumi 06 februari 2017
Penulis gadungan (wiradadaha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar