Senin, 06 Februari 2017

Hirarki di negeri anarki

"SENJA DI LANGIT NUSANTARA"
Ku termenung dalam keheningan malam terpojok dalam kegelapan ini, meratapi kegilaan jaman yg sebentar lagi akan merobohkan dinding kebenaran negeri ini.
 Kami rindu akan adanya raga sang pencerah yg mampu mengancurkan kebiadaban para penjajah, namun raga yg dulu tersembah oleh jutaan jiwa, raga yg dulu jadi pedoman bagi seluruh bangsa, raga yg dulu jadi pencerah bagi kegelapan yg ada dinegeri tercinta, kini raga itu telah tiada terkoyak oleh kejahilan hewan melata dalam persandingan abadinya.
Kini raga itu telah sirna dipanggil oleh sang maha pencipta, raga yg dulu mampu menopang beban berat yg diamanatkan oleh bangsa kini raga itu telah tiada melapuk dimakan oleh kejahilan hewan melata, aku bersedih aku menangis dan aku merintih dikala bangsa ini membutuhkan raga itu untuk menopang beban yg teramat besar namun kenyataan mengharuskan kami bersabar karna raga itu sudah lapuk tersayat dan terhancurkan dipersandingan yg kekal menunggu terlahir kembali dari rahim seorang ibu sejati.
kami benci dengan kenyataan ini kami benci menerima semua ini kami rindu akan rangkulan seorang pencerah dalam keadaan jaman yg semakin mengekang. negri ini butuh pemimpin seperti engkau wahai sang pencerah kami muak menerima semua tipu daya yg diucapkan oleh meraka para serigala berparas manusia yg memimpin negri ini, serigala-serigala yg hidup ditonggak kepemimpinan, serigala-serigala yg hidup diatas sana yg bisa kapan saja menerkam kami bak seekor keledai. kesalahan, kebencian, kemunafikan, kebengisan serta kemerosotan moral sudah tak pernah dianggap nyata karna terhalang kedigdayaan harta dan kemilau dunia yang membutakan mata mereka.
sang terpilih tak pernah didengar dan tak pernah benar-benar dianggap ada oleh nya, kebaikan dan kebahagiaan yang ditawarkan nya (sang terpilih) hanya dianggap fatamorgana bak oasis digurun sahara.
cara berfikirnya tak pernah lagi lurus dengan ajaran-Nya, kehendaknya dalam berbuat didasari atas sifat kebinatangan nya, tak pernah mengingat akan dosa ataupun azab yang dijanjikan-Nya yang terlintas dalam benak nya hanya "AKU SENANG HARI INI ITU CUKUP BAGIKU" apakah pantas kami dipimpin oleh sosok manusia bermental binatang seperti itu? Kami rindu akan rangukalan hangatmu wahai sang pencerah.
Karena Ketika kata tak lagi bermakna, ketika intuisi tak lagi dapat memahami isi hati, ketika ketidak keselarasan dianggap biasa dan ketika kontradiksi terjadi akibat perbedaan yang dianggap menjadi sebuah ancaman.
jaman seakan memaksa manusia berlaku bak binatang, merangsek maju dan tak peduli yang didepan harus terinjak dan tersingkir demi terwujudnya keinginan dan keserakahan yg memuncak dalam dadanya, jaman seakan memaksa manusia berfikir kritis sekaligus rasis dan radikalis dalam menyikapi setiap penggal persoalan yang ada tak perduli salah ataupun benar menurut pihak lain asal benar menurutnya maka habisi saja yang menentang dan yang ada didepan mata. Seakan kearifan manusia sebagai makhluk yang diciptakan tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna hilang begitu saja akibat keserakahan dan kebengisan sifat binatang yg ada dalam dirinya. Serigala-serigala yang duduk diatas sana akan terus bermuka dua sampai si marjinal habis tak tersisa karna hukum yg dibuat tak pernah berpihak akan tetapi terus tumpul kebawah dan menghancurkan
Tapi biarkanlah badut-badut itu tertawa terbahak-bahak dengan kesombongan nya, karena kami yakin Sang terpilih akan tetap berjalan dengan kebenaran didada walau kepala sudah tak nampak lagi sempurna karna tertutup merah nya darah dan kapak yang menghujam diatasnya.
sadarlah wahai pemimpin durjana! hukuman dunia mungkin hanya sebatas cacian atau makian tapi dialam kekal sana tangis darah mu tak akan mampu menjadi alasan dosamu dihapuskan.
perjuangan belum selesai, masih terlalu panjang proses yang harus dilalui terlalu dini untuk menganggap semua sudah berakhir apalagi sampai berputus asa.
lebih baik menjadi rakyat rendah dengan nilai moral yg tinggi dibandingkan pejabat tinggi dengan nilai moral yg rendah.
Tetaplah ikuti jalan kebenaran yang ditapaki sang terpilih dan sang pencerah karena jalan itu akan tetap menuju keridhoan dan kebaikan Tuhan yang Maha Kuasa.

Wallahu'alam bishowab

07 Februari 2017
Penulis gadungan (wiradadaha)

"SANG FAJAR DARI TIMUR"
Ketika rasa benci dan dengki jadi tonggak abadi kebangkitan suatu negeri, maka kebiadaban dan angkara murka adalah realita yg tidak pernah bisa terbantahkan akan terjadi didepan mata.
Kebenaran akan jadi momok menakutkan bagi sang penguasa gila harta dan pemuja dunia. Diskriminalisasi akan menjadi ancaman pasti bagi si marjinal yang tak patuh pada iblis berkedok penguasa suci.
Kebenaran dan kesucian akan menjadi barang murni yang tak laku dipasaran.
Kemerosotan moral sang penguasa mulai terlihat seperti titanus dikaki yang dibasuh dengan air aki, bau busuknya menyengat dan terlihat menjijikan hingga tak ada orang yg berani mendekati!
Penguasa edan yang tak pernah perduli lagi dengan rakyat yang kelaparan, penguasa sinting yang sudah lupa akan janji yg dulu pernah di ucapkan, rezim bobrok yang mulai tak sadar dan menelantarkan si marjinal yang tak paham keadaan!
Sampai akhirnya kegaduhan pun terjadi diistana para penguasa, ketika tokoh yang dianggap suci oleh umat mulai berteriak "MENEGAKAN YANG HAK DAN MENUMPAS KEBATILAN" dan mulai menghunuskan pedang untuk membabat ketidak adilan dan kebiadaban sang penguasa gila jabatan!
Sontak kegaduhan diistana tambah menyala ketika sang tikus pembawa bencana malah menjadi tokoh gila karena berani menista agama dan kaum alim yg disucikan sebagian warga. sontak terdengar penguasa yang melindungi si tikus bajingan mulai konsolidasi dengan para ulama dan budayawan negara agar tak terjadi kisruh antar umat beragama dan para warga yang tak mengerti apa-apa.
Isu-isu mulai diumbar di media-media dan warta kota untuk mengalihkan perbincangan hangat para warga tentang si tikus durjana yang menistakan agama, dan juga mulai mendoktrin para warga dengan segala berita bohong yang mereka rekayasa.
Mereka lupa "tokoh suci" punya kehebatan yg tak bisa mereka tandingi, hanya dengan seruan jihad dan kumandang takbir tokoh suci mampu menarik puluhan bahkan ratusan juta umat yang memiliki cinta pada apa yang mereka percayai dan negeri ini Untuk bersatu mengganyang kebiadaban dan ketidak adilan sang penguasa negeri.
Mereka pikir "tokoh suci" akan menyingkir dengan sogokan 100 miliar dan ratusan hektare tanah yang mereka janjikan, namun alangkah terkejutnya mereka karena tawaran menggiurkan tak pernah dilirik namun malah diacuhkan.
Penguasa tak pernah menyangka tawaran 100 miliar dan hektaran tanah akan ditolak mentah-mentah, namun kenyataan memang begitu adanya.
"Tokoh Suci" tak pernah bungkam ataupun berhenti menyuarakan KEBENARAN DAN KEADILAN yang sepatutnya rakyat dapatkan.
Sampai akhirnya otak sang penguasa mulai keranjingan dan mulai dirasuki ocehan-ocehan setan yang semakin menjerumuskan, beberapa kali upaya pembunuhan serta fitnahan-fitnahan mulai digembor-gemborkan demi untuk menjegal perjuangan dan menciutkan nyali "sang tokoh suci",
Namun sekali lagi "hal yang nihil" mereka dapati.
Keteguhan pendirian atas apa yang "HAK DAN BATHIL" sudah mendarah daging dalam diri "Tokoh Suci", selain karena luasnya ilmu yg beliau miliki kebaikan itu beliau warisi dari KAKEKnya dan idola beliau (ke 4 sahabat kakeknya).
Semoga "Tokoh Suci" diberi Keistiqomahan (HAL BAIK) dalam diri oleh yang Maha Suci dan semoga beliau diberi kesehatan serta kebahagiaan. Dan semoga beliau diberi kemenangan atas musuh-musuh nya dimedan pertempuran.
Amiin Allahum'ma amiin
#cintaahlulbait
#tetapberjuang
#seruantakbir
#seruanjihad
#tetapistiqomah
Sukabumi 06 februari 2017
Penulis gadungan (wiradadaha)